Andai Waktu Bisa Di Ulang (1)
Di Minggu pagi yang buta, dimana matahari belum
menampakkan dirinya, Rian sudah terbangun dari tidurnya yang kurang
menyenyakkan dari biasanya. Dia hanya diam di kasurnya dan bergumam “Hmm… sudah
selesai ya.” Semalam adalah salah satu malam yang paling tidak mengenakkan
dalam hidupnya, ada kejadian yang membuat tidurnya tidak nyenyak semalaman. Dia
baru saja mengakhiri hubungannya dengan sang kekasih yang bernama Dita.
Mereka awalnya adalah teman sekelas di kampus dan
mereka saling memiliki perasaan yang lebih dari sekedar teman hingga akhirnya
memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih, yaitu berpacaran. Baru berjalan
satu bulan setengah hubungan mereka kandas karena Dita yang dua minggu terakhir
terlihat berubah sifat dan perlakuannya terhadap Rian.
Keakraban Dita dengan seorang teman cowoknya dikelas
yang bernama Heri membuat Rian merasa cemburu dan perlahan sakit hati karena
keakraban mereka yang terlihat lebih istimewa dibandingkan kedekatan dirinya
dengan Dita yang masih berpacaran. Dita perlahan mulai cuek dan tak
memperhatikan Rian di minggu pertama setelah hubungan mereka genap sebulan.
Diikuti dengan tolakan-tolakan yang selalu ia tunjukkan saat Rian mengajaknya
jalan berdua. Hal itu semakin membuat Rian terbakar api cemburu dan hilang kesabaran
untuk menghadapi pacarnya.
Pernah suatu ketika dikelas saat Dita sedang asyik
mengobrol dengan Heri, Rian menghampirinya. “Hari Minggu kita jalan, yuk? Udah
lama kita ga jalan-jalan berdua lagi.” Ajak Rian kepada Dita yang masih asyik
mengobrol dengan Heri. “Kamu dengerin aku ngomong gak, sih?!” Rian sedikit
meninggikan suaranya agar Dita meresponnya. “Iya-iya aku dengar kok. Biasa aja kali.” Balas Dita dengan sinis.
“Janji ya hari Minggu kita jalan?” Tanya Rian untuk memastikan Dita. “Iya
janji, udah yuk keluar. Kelas udah sepi, ayo Her kita pulang.” Mendengar
jawaban dari Dita membuat hati Rian sedikit tenang.
Saat Sabtu malam atau biasa disebut malam Minggu,
Rian tidak pergi bersama Dita karena hujan yang sejak sore sudah mengguyur
dengan deras. Rian memutuskan untuk menghabiskan malam Minggunya dengan
bertelepon dengan Dita. Awalnya pembicaraan hangat terjadi ditengah dinginnya
udara yang disebabkan oleh hujan tetapi pembicaraan hangat itu tak berlangsung
lama.
“Hmm… besok kita jadi jalan, ya? Inget lho kamu udah janji sama aku.”
Ucap Rian ditelepon. “Hah? Besok? Jalan sama kamu? Janji? Kapan kamu ngomong
begitu?!” Dita membalas dengan jawaban yang tak diharapkan oleh Rian. “Tempo
hari dikelas aku ngomong sama kamu tapi kamu asyik ngobrol sama Heri.” “Ah,
masa sih? Aku ga inget, kamu jangan ngada-ngada deh, Yan.” “Dit, kamu kenapa
sih? Kok sekarang berubah? Kamu sekarang udah ga memperhatiin aku lagi, kamu
udah asyik sama Heri terus sampe lupa kalau aku ini pacar kamu!” “Apaan sih,
kok ngomongnya gitu? Emang kenapa kalau aku dekat sama dia? Gak suka ya
bilang!” “Aku senang kamu bisa berteman sama siapa aja termasuk Heri, tapi gak
gitu caranya dong. Teman kok suka pegang tangan, elus-elus pipi, aku gak suka
kamu di gituin!!”
Keadaan mulai memanas, bagai bensin yang tersulut api, dengan
cepatnya menghasilkan kobaran api besar diantara keduanya. “Udah deh, kalau mau
jalan lain waktu aja. Aku besok gak bisa, aku mau shopping sama teman-teman
aku.” “Gak, gak perlu lagi, Dit. Aku udah muak sama perlakuan kamu, aku udah ga
sanggup nahan beban dihati aku lagi. Mulai sekarang kita putus!!” Dengan nada
tinggi dan emosi yang sama tingginya, Rian memutuskan hubungannya dengan Dita.
“Lho yaudah, bagus kalau begitu!! Ga ada lagi hambatan buat aku makin akrab
sama Heri!!” balas Dita dengan nada yang tak kalah tinggi. Emosi keduanya pecah
malam itu juga, dan percakapan ditelepon berakhir saat itu juga.
“Nak? Sarapan dulu, yuk. Pagi-pagi kok udah melamun
gitu.” Sahut mama Rian yang memecah lamunannya. “Eh mama, iya ma. Nanti Rian
sarapan kok.” Minggu pagi dihabiskannya dengan melamun dan memikirkan apa yang
sudah terjadi semalam.
Bersambung...
Bersambung...

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda