Andai Waktu Bisa Di Ulang (2)
Siang harinya
Rian diajak pergi oleh sepupu perempuannya untuk menemaninya pergi berbelanja
di sebuah mall yang lumayan dekat dengan rumahnya. Saat berada di mall dan
berjalan bersama sepupunya, betapa terkejutnya Rian melihat dua sejoli yang tak
asing baginya. Mereka adalah Dita dan Heri yang sedang jalan berduaan sambil
berpegangan tangan tanpa ada rasa canggung diantara keduanya. Rian yang melihat
hal tersebut langsung lemas dibuatnya, kakinya gemetaran, tangannya mengepal
seperti orang ingin meninju, dan hatinya pun panas sejadi-jadinya karena hal
yang dilihatnya itu.
Kesabarannya masih bisa ia kendalikan karena ia
tidak mau membuat keributan diruang publik dan membuat malu sepupunya. Akhirnya
ia hanya bisa bersabar dan pasrah saja dengan kejadian itu. Toh Dita sudah
bukan pacarnya lagi. Hari itu adalah hari Minggu yang benar-benar membuat panas
suasana hatinya hingga ia terlelap di malam hari dengan suasana hati yang belum
mendingan.
Di kampus suasana hatinya pun masih tetap sama. Ya,
karena setiap harinya ia akan terus melihat pemandangan yang tak mengenakkan
mata dan hatinya. Apa lagi kalau bukan kedekatan Dita dan Heri yang semakin
lengket. Hingga suatu hari seorang teman cewek bernama Masha datang
menghampirinya.
“Yan, lo gak apa-apa liat Dita sama Heri kayak gitu?
Gue tau kalian udah putus tapi masa iya perasaan lo ke Dita langsung hilang
begitu aja.” Tanya Masha dengan herannya. “Jujur aja, ya. Gue sebenarnya masih
sayang sama Dita, Sha. Tapi lo tau sendiri kan Dita kayak gimana, sampe lengket
kayak gitu ke Heri.” Jawab Rian dengan nada pelan dan sedih. “Kalau bisa
ngebantu gue pasti bakal bantuin lo, Yan. Tapi lo sungguh-sungguh juga kalau memang
masih sayang sama Dita.” “Ya pasti sungguh-sungguh lah. She is my first love.”
Masha hanya sanggup membalas ucapan Rian dengan tepukan pundak yang
mengisyaratkan ke-prihatinannya terhadap Rian.
Suatu hari saat Rian sedang bersantai di kantin
kampus dirinya dihampiri oleh Masha yang nampak habis lari-lari dengan nafas
yang masih ngos-ngosan. “Yan… itu… si
Dita…” Masha menghentikan ucapannya karena nafas yang benar-benar belum teratur
sehabis lari. “Dita kenapa? Nafas dulu yang benar baru lo ngomong ke gue.”
Balas Rian yang sedang asyik mengunyah batagor. “Dita, Yan. Dita pingsan, tadi
lagi di parkiran dia pingsan. Badannya panas banget. Sekarang dibawa kerumah
sakit.” “Seriusan lo?! Yaudah kita kerumah sakit sekarang!!” Mendengar
perkataan Masha, Rian dan Masha pun bergegas menuju rumah sakit tempat Dita
berada.
Sesampainya di rumah sakit, Rian dan Masha hanya bisa menunggu karena keadaan Dita yang masih belum membaik. Beberapa saat kemudian, dokter mengabarkan kepada keluarga Dita yang sudah menunggu bersama dengan Rian dan Masha. Dokter berkata bahwa Dita terkena penyakit demam berdarah yang cukup parah yang mengharuskan Dita dirawat sekitar 2 minggu di rumah sakit. Dokter juga bilang bahwa untuk saat ini Dita masih belum bisa untuk ditemui, karena waktu sudah menunjukkan pukul 20.35, akhirnya Rian dan Masha pamit pulang karena khawatir orang tua mereka mencari mereka karena belum pulang ke rumah.
“Tok tok” (suara pintu)
“Ya, silahkan masuk”. Ucap seorang suster yang
berada dikamar Dita. “Permisi suster, kami mau menjenguk Dita hehe…” Masha
masuk kedalam kamar Dita. “Oh temannya
Dita, silahkan masuk. Dita saya tinggal dulu ya, teman-teman kamu datang
menjenguk. Nanti saya kesini lagi.” Ucap sang suster sebelum keluar dari kamar
Dita. “Eh, Sha. Sendiri aja?” Tanya Dita kepada Masha. “Engga, gue sama si… lah
dia malah diluar. Yan, sini lo!” balas Masha dan ia menarik Rian yang masih
berada diluar.
“Yan? Lo sama
Rian?” “Iya nih, Dit. Gue sama Rian kemarin udah kesini tapi belum boleh
bertemu lo. Yaudah hari ini kita datang lagi buat jenguk lo.” “Oh gitu, makasih
ya, Sha.” Beberapa detik kemudian akhirnya Rian masuk dan menyapa Dita yang
sudah lama tidak mengobrol dengannya.
“Hai, Dita.” Hanya itu yang mampu ia ucapkan kepada mantan pacarnya
karena tak mampu menutupi kecanggungannya. “Hai, Yan. Sini duduk samping
Masha.” Rian pun duduk bersebelahan dengan Masha dan memberikan beberapa buah
segar yang dibeli patungan dengan Masha saat perjalanan ke rumah sakit. Masha
dan Dita pun mengobrol sedangkan Rian hanya senyam-senyum mendengarkan obrolan
mereka. Ya, Rian masih canggung dengan keadaan ini.
Bersambung...
Bersambung...

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda