Selasa, 17 Maret 2015

Andai Waktu Bisa Di Ulang (2)

Siang harinya Rian diajak pergi oleh sepupu perempuannya untuk menemaninya pergi berbelanja di sebuah mall yang lumayan dekat dengan rumahnya. Saat berada di mall dan berjalan bersama sepupunya, betapa terkejutnya Rian melihat dua sejoli yang tak asing baginya. Mereka adalah Dita dan Heri yang sedang jalan berduaan sambil berpegangan tangan tanpa ada rasa canggung diantara keduanya. Rian yang melihat hal tersebut langsung lemas dibuatnya, kakinya gemetaran, tangannya mengepal seperti orang ingin meninju, dan hatinya pun panas sejadi-jadinya karena hal yang dilihatnya itu.

Kesabarannya masih bisa ia kendalikan karena ia tidak mau membuat keributan diruang publik dan membuat malu sepupunya. Akhirnya ia hanya bisa bersabar dan pasrah saja dengan kejadian itu. Toh Dita sudah bukan pacarnya lagi. Hari itu adalah hari Minggu yang benar-benar membuat panas suasana hatinya hingga ia terlelap di malam hari dengan suasana hati yang belum mendingan.

Di kampus suasana hatinya pun masih tetap sama. Ya, karena setiap harinya ia akan terus melihat pemandangan yang tak mengenakkan mata dan hatinya. Apa lagi kalau bukan kedekatan Dita dan Heri yang semakin lengket. Hingga suatu hari seorang teman cewek bernama Masha datang menghampirinya.

“Yan, lo gak apa-apa liat Dita sama Heri kayak gitu? Gue tau kalian udah putus tapi masa iya perasaan lo ke Dita langsung hilang begitu aja.” Tanya Masha dengan herannya. “Jujur aja, ya. Gue sebenarnya masih sayang sama Dita, Sha. Tapi lo tau sendiri kan Dita kayak gimana, sampe lengket kayak gitu ke Heri.” Jawab Rian dengan nada pelan dan sedih. “Kalau bisa ngebantu gue pasti bakal bantuin lo, Yan. Tapi lo sungguh-sungguh juga kalau memang masih sayang sama Dita.” “Ya pasti sungguh-sungguh lah. She is my first love.” Masha hanya sanggup membalas ucapan Rian dengan tepukan pundak yang mengisyaratkan ke-prihatinannya terhadap Rian.

Suatu hari saat Rian sedang bersantai di kantin kampus dirinya dihampiri oleh Masha yang nampak habis lari-lari dengan nafas yang masih ngos-ngosan. “Yan…  itu… si Dita…” Masha menghentikan ucapannya karena nafas yang benar-benar belum teratur sehabis lari. “Dita kenapa? Nafas dulu yang benar baru lo ngomong ke gue.” Balas Rian yang sedang asyik mengunyah batagor. “Dita, Yan. Dita pingsan, tadi lagi di parkiran dia pingsan. Badannya panas banget. Sekarang dibawa kerumah sakit.” “Seriusan lo?! Yaudah kita kerumah sakit sekarang!!” Mendengar perkataan Masha, Rian dan Masha pun bergegas menuju rumah sakit tempat Dita berada.

Sesampainya di rumah sakit, Rian dan Masha hanya bisa menunggu karena keadaan Dita yang masih belum membaik. Beberapa saat kemudian, dokter mengabarkan kepada keluarga Dita yang sudah menunggu bersama dengan Rian dan Masha. Dokter berkata bahwa Dita terkena penyakit demam berdarah yang cukup parah yang mengharuskan Dita dirawat sekitar 2 minggu di rumah sakit. Dokter juga bilang bahwa untuk saat ini Dita masih belum bisa untuk ditemui, karena waktu sudah menunjukkan pukul 20.35,  akhirnya Rian dan Masha pamit pulang karena khawatir orang tua mereka mencari mereka karena belum pulang ke rumah.


“Tok tok” (suara pintu)

“Ya, silahkan masuk”. Ucap seorang suster yang berada dikamar Dita. “Permisi suster, kami mau menjenguk Dita hehe…” Masha masuk kedalam kamar Dita.  “Oh temannya Dita, silahkan masuk. Dita saya tinggal dulu ya, teman-teman kamu datang menjenguk. Nanti saya kesini lagi.” Ucap sang suster sebelum keluar dari kamar Dita. “Eh, Sha. Sendiri aja?” Tanya Dita kepada Masha. “Engga, gue sama si… lah dia malah diluar. Yan, sini lo!” balas Masha dan ia menarik Rian yang masih berada diluar.

 “Yan? Lo sama Rian?” “Iya nih, Dit. Gue sama Rian kemarin udah kesini tapi belum boleh bertemu lo. Yaudah hari ini kita datang lagi buat jenguk lo.” “Oh gitu, makasih ya, Sha.” Beberapa detik kemudian akhirnya Rian masuk dan menyapa Dita yang sudah lama tidak mengobrol dengannya.  “Hai, Dita.” Hanya itu yang mampu ia ucapkan kepada mantan pacarnya karena tak mampu menutupi kecanggungannya. “Hai, Yan. Sini duduk samping Masha.” Rian pun duduk bersebelahan dengan Masha dan memberikan beberapa buah segar yang dibeli patungan dengan Masha saat perjalanan ke rumah sakit. Masha dan Dita pun mengobrol sedangkan Rian hanya senyam-senyum mendengarkan obrolan mereka. Ya, Rian masih canggung dengan keadaan ini.

Bersambung...

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda