Selasa, 17 Februari 2015

Andai Waktu Bisa Di Ulang (1)

Di Minggu pagi yang buta, dimana matahari belum menampakkan dirinya, Rian sudah terbangun dari tidurnya yang kurang menyenyakkan dari biasanya. Dia hanya diam di kasurnya dan bergumam “Hmm… sudah selesai ya.” Semalam adalah salah satu malam yang paling tidak mengenakkan dalam hidupnya, ada kejadian yang membuat tidurnya tidak nyenyak semalaman. Dia baru saja mengakhiri hubungannya dengan sang kekasih yang bernama Dita.

Mereka awalnya adalah teman sekelas di kampus dan mereka saling memiliki perasaan yang lebih dari sekedar teman hingga akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih, yaitu berpacaran. Baru berjalan satu bulan setengah hubungan mereka kandas karena Dita yang dua minggu terakhir terlihat berubah sifat dan perlakuannya terhadap Rian.

Keakraban Dita dengan seorang teman cowoknya dikelas yang bernama Heri membuat Rian merasa cemburu dan perlahan sakit hati karena keakraban mereka yang terlihat lebih istimewa dibandingkan kedekatan dirinya dengan Dita yang masih berpacaran. Dita perlahan mulai cuek dan tak memperhatikan Rian di minggu pertama setelah hubungan mereka genap sebulan. Diikuti dengan tolakan-tolakan yang selalu ia tunjukkan saat Rian mengajaknya jalan berdua. Hal itu semakin membuat Rian terbakar api cemburu dan hilang kesabaran untuk menghadapi pacarnya.

Pernah suatu ketika dikelas saat Dita sedang asyik mengobrol dengan Heri, Rian menghampirinya. “Hari Minggu kita jalan, yuk? Udah lama kita ga jalan-jalan berdua lagi.” Ajak Rian kepada Dita yang masih asyik mengobrol dengan Heri. “Kamu dengerin aku ngomong gak, sih?!” Rian sedikit meninggikan suaranya agar Dita meresponnya. “Iya-iya aku dengar kok.  Biasa aja kali.” Balas Dita dengan sinis. “Janji ya hari Minggu kita jalan?” Tanya Rian untuk memastikan Dita. “Iya janji, udah yuk keluar. Kelas udah sepi, ayo Her kita pulang.” Mendengar jawaban dari Dita membuat hati Rian sedikit tenang.

Saat Sabtu malam atau biasa disebut malam Minggu, Rian tidak pergi bersama Dita karena hujan yang sejak sore sudah mengguyur dengan deras. Rian memutuskan untuk menghabiskan malam Minggunya dengan bertelepon dengan Dita. Awalnya pembicaraan hangat terjadi ditengah dinginnya udara yang disebabkan oleh hujan tetapi pembicaraan hangat itu tak berlangsung lama.

 “Hmm… besok kita jadi jalan, ya? Inget lho kamu udah janji sama aku.” Ucap Rian ditelepon. “Hah? Besok? Jalan sama kamu? Janji? Kapan kamu ngomong begitu?!” Dita membalas dengan jawaban yang tak diharapkan oleh Rian. “Tempo hari dikelas aku ngomong sama kamu tapi kamu asyik ngobrol sama Heri.” “Ah, masa sih? Aku ga inget, kamu jangan ngada-ngada deh, Yan.” “Dit, kamu kenapa sih? Kok sekarang berubah? Kamu sekarang udah ga memperhatiin aku lagi, kamu udah asyik sama Heri terus sampe lupa kalau aku ini pacar kamu!” “Apaan sih, kok ngomongnya gitu? Emang kenapa kalau aku dekat sama dia? Gak suka ya bilang!” “Aku senang kamu bisa berteman sama siapa aja termasuk Heri, tapi gak gitu caranya dong. Teman kok suka pegang tangan, elus-elus pipi, aku gak suka kamu di gituin!!” 

Keadaan mulai memanas, bagai bensin yang tersulut api, dengan cepatnya menghasilkan kobaran api besar diantara keduanya. “Udah deh, kalau mau jalan lain waktu aja. Aku besok gak bisa, aku mau shopping sama teman-teman aku.” “Gak, gak perlu lagi, Dit. Aku udah muak sama perlakuan kamu, aku udah ga sanggup nahan beban dihati aku lagi. Mulai sekarang kita putus!!” Dengan nada tinggi dan emosi yang sama tingginya, Rian memutuskan hubungannya dengan Dita. “Lho yaudah, bagus kalau begitu!! Ga ada lagi hambatan buat aku makin akrab sama Heri!!” balas Dita dengan nada yang tak kalah tinggi. Emosi keduanya pecah malam itu juga, dan percakapan ditelepon berakhir saat itu juga.



“Nak? Sarapan dulu, yuk. Pagi-pagi kok udah melamun gitu.” Sahut mama Rian yang memecah lamunannya. “Eh mama, iya ma. Nanti Rian sarapan kok.” Minggu pagi dihabiskannya dengan melamun dan memikirkan apa yang sudah terjadi semalam.

Bersambung...

Rabu, 11 Februari 2015

Datang dan Perginya Setiap Orang Dalam Hidup Kita

Orang datang dan pergi di kehidupan setiap manusia. Mereka datang karena ingin mengenal dan berteman dengan seseorang yang baru, namun ada juga mereka yang pergi karena menemukan hal baru yang lebih menarik dari yang ditemui sebelumnya. Terkadang seseorang datang kepadamu hanya karena ada maunya, tak memiliki niat yang lebih dari itu. Cukup kejam? Mungkin. Dan seseorang yang pergi dari kehidupanmu tidak berpikir sebelumnya bahwa ia akan meninggalkan seseorang yang sudah menganggap dirinya sebagai sesuatu yang penting dan berharga, bahkan lebih penting dan berharga daripada hidupnya sendiri.

Disaat kita sudah berpisah cukup lama dari seseorang atau teman-teman, pasti hal yang kita rasakan adalah rindu. Entah rindu untuk bermain bersama, rindu belajar bersama, atau hanya sekedar bercengkrama. Disebuah kesempatan seperti reuni sekolah, pastinya kita mengharapkan bisa bertemu dengan orang yang sedang dirindukan dan mengobrol layaknya teman yang sudah lama tak berjumpa. Dan di reuni ini lah kita dapat melihat siapa yang sebenarnya teman kita dan siapa yang hanya sekedar teman saat di sekolah. Ya, benar-benar teman saat di sekolah saja. Kenapa saya berkata begitu? Karena faktanya ada orang-orang yang sudah melupakan pertemanannya saat di sekolah.

Contoh kongkritnya adalah ketika sudah saling tatap muka dan menyapa teman kita, dia hanya membalas dengan senyum yang kecut dan berlalu begitu saja. Padahal kita mengharapkan ada sebuah obrolan dari pertemuan itu walaupun hanya sepatah kata saja. Dari kejadian itu kemudian kita berpikir apakah dari diri sendiri ada yang salah hingga teman kita berlalu begitu saja? Tidak. Tidak ada yang salah dengan diri kita. Apakah teman kita itu yang salah? Jawabannya juga tidak. Kenapa demikian? Karena sejak awal hubungan pertemanan itu dibangun hanya saat di sekolah, seperti saling bertemu, menyapa, atau bahkan pergi ke kantin bersama teman yang lainnya, tetapi saat sudah tidak berada di sekolah tak ada lagi kontak yang bisa menjaga hubungan pertemanan tersebut hingga akhirnya saat berpisah dalam kurun waktu yang cukup lama orang itu sudah lupa atau bahkan tak menganggap kita sebagai temannya lagi karena dia sudah menemukan teman-teman yang baru dan cocok dengannya di lingkungan yang baru.

Setiap orang pasti memiliki seseorang yang spesial dalam hidupnya dan tidak ingin orang itu pergi dari kehidupannya. Entah itu sahabat ataupun seorang kekasih. Tapi, bagaimana jika orang yang spesial itu hilang dari hidup kita? Kehilangan barang masih bisa digantikan dengan barang yang sama tetapi bagaimana jika yang hilang itu adalah sahabat atau kekasih yang sangat spesial dalam hidup kita? Yang sudah menjadi bagian dari hidup kita? Sungguh sangat menyakitkan. Lebih menyakitkan dari hal apapun, rasanya seperti kehilangan setengah dari diri kita sendiri karena seseorang yang spesial sudah menjadi pelengkap dari kekurangan dalam diri kita. Terkadang orang-orang seperti itu tidak tahu jika dia begitu spesial bagi teman atau orang yang sudah memiliki hubungan dengannya. Meninggalkan luka yang dalam dan amat membekas bagi orang yang ditinggalkan.

Kehilangan seseorang memang sangat menyakitkan, tetapi itu adalah proses dalam kehidupan setiap manusia. Itu menunjukkan bahwa orang-orang yang masih bertahan dan setia dengan kita yang pantas kita hargai dan kita jaga meskipun banyak konflik dan drama didalamnya tetapi itulah bumbu pengawet dalam sebuah hubungan yang sejati.

Jadi, datangnya orang baru atau perginya seseorang yang sudah cukup lama dikenal adalah sebuah proses dalam hidup yang akan menunjukkan dalam diri setiap manusia bahwa seseorang yang spesial akan selalu ada untuknya dalam suka maupun duka, akan membantu setiap masalah, dan akan selalu ada setiap kita membutuhkannya.