Kamis, 03 Desember 2015

Tentang Sakit Hati

Setiap orang pernah merasakan sakit hati, dari anak kecil hingga orang dewasa pasti merasakan yang namanya sakit hati. Apa sih definisi sakit hati itu hingga disebut sakit hati? Sakit hati yang saya maksud adalah kondisi dimana perasaan seseorang terasa sakit hingga menimbulkan efek psikis tertentu seperti galau, sedih, menangis hingga stress. Terluka namun tidak berdarah, itulah yang dinamakan sakit hati.

Sakit hati pun disebabkan oleh banyak hal, seperti anak kecil yang menangis karena tidak dibelikan mainan oleh orang tuanya atau abg-abg yang putus hubungan dengan pacarnya dari hubungan yang baru berumur hitungan hari. Untuk orang-orang yang sudah cukup dewasa, sakit hati sudah menjadi hal yang cukup biasa dalam berbagai hal. Seperti dunia perkuliahan, percintaan, pekerjaan dan lain-lainnya. Bagi remaja-remaja yang memasuki dunia perkuliahan, sakit hati karena dosen sudah sangat biasa, begitu pula dengan percintaan klasik antar mahasiswa. Dalam percintaan ini, putus hubungan dari pacar bukan lah satu-satunya hal yang menyebabkan sakit hati seorang mahasiswa. Sebab, dalam dunia perkuliahan yang keras dan selera tentang pasangan idaman kadang bisa sama dengan teman sekelas atau sejurusan atau seangkatan yang menyebabkan persaingan secara tidak langsung untuk memikat hati seseorang yang idamkan. Dalam persaingan itulah muncul sakit hati yang skalanya kecil seperti cemburu atau iri yang sebabkan karena doi terlihat lebih akrab dengan orang lain yang menjadi pesaing atau jalan bareng tanpa sepengetahuan kita ataupun chat yang dibales dalam interval waktu yang cukup lama karena sudah tertarik dengan pesaing kita. Atau yang lebih menyakitkan lagi adalah si doi sudah memiliki pujaan hatinya sendiri sehingga pendekatan yang dilakukan hanya hal yang sia-sia. Hmm… sungguh menyedihkan.

Tidak hanya itu, terkadang pergaulan antar mahasiswa juga terdapat gesekan-gesekan tertentu yang menyebabkan seseorang dapat terkucilkan dari pergaulan. Contohnya adalah beradu argumen dengan teman hingga keluar kata-kata yang menyebabkan sakit hati orang lain yang mendengarnya. Lalu seseorang yang terlalu menyendiri bahkan bisa dikatakan anti-sosial membuat orang-orang disekitarnya sulit untuk bersosialisasi dengan orang lain sehingga jarang ada orang yang berteman dengannya. Atau yang awalnya berteman dengan semua orang tapi perlahan menimbulkan konflik-konflik kecil yang membuat orang mulai enggan berteman dengannya. Sakit hati yang dirasakan pun sangat besar karena hal-hal seperti itu akan menyebabkan seseorang sedih hingga stress yang menyebabkan dirinya mulai bolos-bolosan kuliah.

Sakit hati itu banyak penyebab dan banyak macamnya, begitu pula dengan cara menyembuhkan hati yang terluka. Beberapa orang mengatasi sakit hatinya dengan menyampaikan isi hatinya melalui tulisan, entah itu menulis diary atau mengupdate status di media sosialnya. Ada juga yang meluapkannya dengan menghibur diri dengan menonton film kesukaan atau melakukan kegiatan yang positif yang menyegarkan pikiran dan psikologinya. Dan ada yang meluapkannya dengan bercerita sampai menangis karena emosi yang begitu besar pada apa yang dirasakan oleh hatinya. 

Jadi, setiap orang memiliki sakit hatinya masing-masing yang dapat lebih mendewasakan pikiran, penguatan psikologis dan dapat menyaring hal positif dan negatif dari apa yang sudah dirasakan dan dilaluinya. Sakit hati mungkin hal yang buruk tetapi dari hal yang buruk itulah terkadang kita mendapatkan hal yang baik yang tak pernah kita duga.

Selasa, 17 Maret 2015

Andai Waktu Bisa Di Ulang (2)

Siang harinya Rian diajak pergi oleh sepupu perempuannya untuk menemaninya pergi berbelanja di sebuah mall yang lumayan dekat dengan rumahnya. Saat berada di mall dan berjalan bersama sepupunya, betapa terkejutnya Rian melihat dua sejoli yang tak asing baginya. Mereka adalah Dita dan Heri yang sedang jalan berduaan sambil berpegangan tangan tanpa ada rasa canggung diantara keduanya. Rian yang melihat hal tersebut langsung lemas dibuatnya, kakinya gemetaran, tangannya mengepal seperti orang ingin meninju, dan hatinya pun panas sejadi-jadinya karena hal yang dilihatnya itu.

Kesabarannya masih bisa ia kendalikan karena ia tidak mau membuat keributan diruang publik dan membuat malu sepupunya. Akhirnya ia hanya bisa bersabar dan pasrah saja dengan kejadian itu. Toh Dita sudah bukan pacarnya lagi. Hari itu adalah hari Minggu yang benar-benar membuat panas suasana hatinya hingga ia terlelap di malam hari dengan suasana hati yang belum mendingan.

Di kampus suasana hatinya pun masih tetap sama. Ya, karena setiap harinya ia akan terus melihat pemandangan yang tak mengenakkan mata dan hatinya. Apa lagi kalau bukan kedekatan Dita dan Heri yang semakin lengket. Hingga suatu hari seorang teman cewek bernama Masha datang menghampirinya.

“Yan, lo gak apa-apa liat Dita sama Heri kayak gitu? Gue tau kalian udah putus tapi masa iya perasaan lo ke Dita langsung hilang begitu aja.” Tanya Masha dengan herannya. “Jujur aja, ya. Gue sebenarnya masih sayang sama Dita, Sha. Tapi lo tau sendiri kan Dita kayak gimana, sampe lengket kayak gitu ke Heri.” Jawab Rian dengan nada pelan dan sedih. “Kalau bisa ngebantu gue pasti bakal bantuin lo, Yan. Tapi lo sungguh-sungguh juga kalau memang masih sayang sama Dita.” “Ya pasti sungguh-sungguh lah. She is my first love.” Masha hanya sanggup membalas ucapan Rian dengan tepukan pundak yang mengisyaratkan ke-prihatinannya terhadap Rian.

Suatu hari saat Rian sedang bersantai di kantin kampus dirinya dihampiri oleh Masha yang nampak habis lari-lari dengan nafas yang masih ngos-ngosan. “Yan…  itu… si Dita…” Masha menghentikan ucapannya karena nafas yang benar-benar belum teratur sehabis lari. “Dita kenapa? Nafas dulu yang benar baru lo ngomong ke gue.” Balas Rian yang sedang asyik mengunyah batagor. “Dita, Yan. Dita pingsan, tadi lagi di parkiran dia pingsan. Badannya panas banget. Sekarang dibawa kerumah sakit.” “Seriusan lo?! Yaudah kita kerumah sakit sekarang!!” Mendengar perkataan Masha, Rian dan Masha pun bergegas menuju rumah sakit tempat Dita berada.

Sesampainya di rumah sakit, Rian dan Masha hanya bisa menunggu karena keadaan Dita yang masih belum membaik. Beberapa saat kemudian, dokter mengabarkan kepada keluarga Dita yang sudah menunggu bersama dengan Rian dan Masha. Dokter berkata bahwa Dita terkena penyakit demam berdarah yang cukup parah yang mengharuskan Dita dirawat sekitar 2 minggu di rumah sakit. Dokter juga bilang bahwa untuk saat ini Dita masih belum bisa untuk ditemui, karena waktu sudah menunjukkan pukul 20.35,  akhirnya Rian dan Masha pamit pulang karena khawatir orang tua mereka mencari mereka karena belum pulang ke rumah.


“Tok tok” (suara pintu)

“Ya, silahkan masuk”. Ucap seorang suster yang berada dikamar Dita. “Permisi suster, kami mau menjenguk Dita hehe…” Masha masuk kedalam kamar Dita.  “Oh temannya Dita, silahkan masuk. Dita saya tinggal dulu ya, teman-teman kamu datang menjenguk. Nanti saya kesini lagi.” Ucap sang suster sebelum keluar dari kamar Dita. “Eh, Sha. Sendiri aja?” Tanya Dita kepada Masha. “Engga, gue sama si… lah dia malah diluar. Yan, sini lo!” balas Masha dan ia menarik Rian yang masih berada diluar.

 “Yan? Lo sama Rian?” “Iya nih, Dit. Gue sama Rian kemarin udah kesini tapi belum boleh bertemu lo. Yaudah hari ini kita datang lagi buat jenguk lo.” “Oh gitu, makasih ya, Sha.” Beberapa detik kemudian akhirnya Rian masuk dan menyapa Dita yang sudah lama tidak mengobrol dengannya.  “Hai, Dita.” Hanya itu yang mampu ia ucapkan kepada mantan pacarnya karena tak mampu menutupi kecanggungannya. “Hai, Yan. Sini duduk samping Masha.” Rian pun duduk bersebelahan dengan Masha dan memberikan beberapa buah segar yang dibeli patungan dengan Masha saat perjalanan ke rumah sakit. Masha dan Dita pun mengobrol sedangkan Rian hanya senyam-senyum mendengarkan obrolan mereka. Ya, Rian masih canggung dengan keadaan ini.

Bersambung...

Selasa, 17 Februari 2015

Andai Waktu Bisa Di Ulang (1)

Di Minggu pagi yang buta, dimana matahari belum menampakkan dirinya, Rian sudah terbangun dari tidurnya yang kurang menyenyakkan dari biasanya. Dia hanya diam di kasurnya dan bergumam “Hmm… sudah selesai ya.” Semalam adalah salah satu malam yang paling tidak mengenakkan dalam hidupnya, ada kejadian yang membuat tidurnya tidak nyenyak semalaman. Dia baru saja mengakhiri hubungannya dengan sang kekasih yang bernama Dita.

Mereka awalnya adalah teman sekelas di kampus dan mereka saling memiliki perasaan yang lebih dari sekedar teman hingga akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih, yaitu berpacaran. Baru berjalan satu bulan setengah hubungan mereka kandas karena Dita yang dua minggu terakhir terlihat berubah sifat dan perlakuannya terhadap Rian.

Keakraban Dita dengan seorang teman cowoknya dikelas yang bernama Heri membuat Rian merasa cemburu dan perlahan sakit hati karena keakraban mereka yang terlihat lebih istimewa dibandingkan kedekatan dirinya dengan Dita yang masih berpacaran. Dita perlahan mulai cuek dan tak memperhatikan Rian di minggu pertama setelah hubungan mereka genap sebulan. Diikuti dengan tolakan-tolakan yang selalu ia tunjukkan saat Rian mengajaknya jalan berdua. Hal itu semakin membuat Rian terbakar api cemburu dan hilang kesabaran untuk menghadapi pacarnya.

Pernah suatu ketika dikelas saat Dita sedang asyik mengobrol dengan Heri, Rian menghampirinya. “Hari Minggu kita jalan, yuk? Udah lama kita ga jalan-jalan berdua lagi.” Ajak Rian kepada Dita yang masih asyik mengobrol dengan Heri. “Kamu dengerin aku ngomong gak, sih?!” Rian sedikit meninggikan suaranya agar Dita meresponnya. “Iya-iya aku dengar kok.  Biasa aja kali.” Balas Dita dengan sinis. “Janji ya hari Minggu kita jalan?” Tanya Rian untuk memastikan Dita. “Iya janji, udah yuk keluar. Kelas udah sepi, ayo Her kita pulang.” Mendengar jawaban dari Dita membuat hati Rian sedikit tenang.

Saat Sabtu malam atau biasa disebut malam Minggu, Rian tidak pergi bersama Dita karena hujan yang sejak sore sudah mengguyur dengan deras. Rian memutuskan untuk menghabiskan malam Minggunya dengan bertelepon dengan Dita. Awalnya pembicaraan hangat terjadi ditengah dinginnya udara yang disebabkan oleh hujan tetapi pembicaraan hangat itu tak berlangsung lama.

 “Hmm… besok kita jadi jalan, ya? Inget lho kamu udah janji sama aku.” Ucap Rian ditelepon. “Hah? Besok? Jalan sama kamu? Janji? Kapan kamu ngomong begitu?!” Dita membalas dengan jawaban yang tak diharapkan oleh Rian. “Tempo hari dikelas aku ngomong sama kamu tapi kamu asyik ngobrol sama Heri.” “Ah, masa sih? Aku ga inget, kamu jangan ngada-ngada deh, Yan.” “Dit, kamu kenapa sih? Kok sekarang berubah? Kamu sekarang udah ga memperhatiin aku lagi, kamu udah asyik sama Heri terus sampe lupa kalau aku ini pacar kamu!” “Apaan sih, kok ngomongnya gitu? Emang kenapa kalau aku dekat sama dia? Gak suka ya bilang!” “Aku senang kamu bisa berteman sama siapa aja termasuk Heri, tapi gak gitu caranya dong. Teman kok suka pegang tangan, elus-elus pipi, aku gak suka kamu di gituin!!” 

Keadaan mulai memanas, bagai bensin yang tersulut api, dengan cepatnya menghasilkan kobaran api besar diantara keduanya. “Udah deh, kalau mau jalan lain waktu aja. Aku besok gak bisa, aku mau shopping sama teman-teman aku.” “Gak, gak perlu lagi, Dit. Aku udah muak sama perlakuan kamu, aku udah ga sanggup nahan beban dihati aku lagi. Mulai sekarang kita putus!!” Dengan nada tinggi dan emosi yang sama tingginya, Rian memutuskan hubungannya dengan Dita. “Lho yaudah, bagus kalau begitu!! Ga ada lagi hambatan buat aku makin akrab sama Heri!!” balas Dita dengan nada yang tak kalah tinggi. Emosi keduanya pecah malam itu juga, dan percakapan ditelepon berakhir saat itu juga.



“Nak? Sarapan dulu, yuk. Pagi-pagi kok udah melamun gitu.” Sahut mama Rian yang memecah lamunannya. “Eh mama, iya ma. Nanti Rian sarapan kok.” Minggu pagi dihabiskannya dengan melamun dan memikirkan apa yang sudah terjadi semalam.

Bersambung...

Rabu, 11 Februari 2015

Datang dan Perginya Setiap Orang Dalam Hidup Kita

Orang datang dan pergi di kehidupan setiap manusia. Mereka datang karena ingin mengenal dan berteman dengan seseorang yang baru, namun ada juga mereka yang pergi karena menemukan hal baru yang lebih menarik dari yang ditemui sebelumnya. Terkadang seseorang datang kepadamu hanya karena ada maunya, tak memiliki niat yang lebih dari itu. Cukup kejam? Mungkin. Dan seseorang yang pergi dari kehidupanmu tidak berpikir sebelumnya bahwa ia akan meninggalkan seseorang yang sudah menganggap dirinya sebagai sesuatu yang penting dan berharga, bahkan lebih penting dan berharga daripada hidupnya sendiri.

Disaat kita sudah berpisah cukup lama dari seseorang atau teman-teman, pasti hal yang kita rasakan adalah rindu. Entah rindu untuk bermain bersama, rindu belajar bersama, atau hanya sekedar bercengkrama. Disebuah kesempatan seperti reuni sekolah, pastinya kita mengharapkan bisa bertemu dengan orang yang sedang dirindukan dan mengobrol layaknya teman yang sudah lama tak berjumpa. Dan di reuni ini lah kita dapat melihat siapa yang sebenarnya teman kita dan siapa yang hanya sekedar teman saat di sekolah. Ya, benar-benar teman saat di sekolah saja. Kenapa saya berkata begitu? Karena faktanya ada orang-orang yang sudah melupakan pertemanannya saat di sekolah.

Contoh kongkritnya adalah ketika sudah saling tatap muka dan menyapa teman kita, dia hanya membalas dengan senyum yang kecut dan berlalu begitu saja. Padahal kita mengharapkan ada sebuah obrolan dari pertemuan itu walaupun hanya sepatah kata saja. Dari kejadian itu kemudian kita berpikir apakah dari diri sendiri ada yang salah hingga teman kita berlalu begitu saja? Tidak. Tidak ada yang salah dengan diri kita. Apakah teman kita itu yang salah? Jawabannya juga tidak. Kenapa demikian? Karena sejak awal hubungan pertemanan itu dibangun hanya saat di sekolah, seperti saling bertemu, menyapa, atau bahkan pergi ke kantin bersama teman yang lainnya, tetapi saat sudah tidak berada di sekolah tak ada lagi kontak yang bisa menjaga hubungan pertemanan tersebut hingga akhirnya saat berpisah dalam kurun waktu yang cukup lama orang itu sudah lupa atau bahkan tak menganggap kita sebagai temannya lagi karena dia sudah menemukan teman-teman yang baru dan cocok dengannya di lingkungan yang baru.

Setiap orang pasti memiliki seseorang yang spesial dalam hidupnya dan tidak ingin orang itu pergi dari kehidupannya. Entah itu sahabat ataupun seorang kekasih. Tapi, bagaimana jika orang yang spesial itu hilang dari hidup kita? Kehilangan barang masih bisa digantikan dengan barang yang sama tetapi bagaimana jika yang hilang itu adalah sahabat atau kekasih yang sangat spesial dalam hidup kita? Yang sudah menjadi bagian dari hidup kita? Sungguh sangat menyakitkan. Lebih menyakitkan dari hal apapun, rasanya seperti kehilangan setengah dari diri kita sendiri karena seseorang yang spesial sudah menjadi pelengkap dari kekurangan dalam diri kita. Terkadang orang-orang seperti itu tidak tahu jika dia begitu spesial bagi teman atau orang yang sudah memiliki hubungan dengannya. Meninggalkan luka yang dalam dan amat membekas bagi orang yang ditinggalkan.

Kehilangan seseorang memang sangat menyakitkan, tetapi itu adalah proses dalam kehidupan setiap manusia. Itu menunjukkan bahwa orang-orang yang masih bertahan dan setia dengan kita yang pantas kita hargai dan kita jaga meskipun banyak konflik dan drama didalamnya tetapi itulah bumbu pengawet dalam sebuah hubungan yang sejati.

Jadi, datangnya orang baru atau perginya seseorang yang sudah cukup lama dikenal adalah sebuah proses dalam hidup yang akan menunjukkan dalam diri setiap manusia bahwa seseorang yang spesial akan selalu ada untuknya dalam suka maupun duka, akan membantu setiap masalah, dan akan selalu ada setiap kita membutuhkannya.